Thursday, April 5, 2012

Wednesday, January 2, 2008

about the workshops

Grass Puppet Making Workshops
with Jumaadi

Grass puppets are a popular children’s game in the rice growing agricultural areas of Java and also introduce children to legends performed by the highly decorated, buffalo hide shadow puppets (wayang) which traditionally tell stories of good and evil. Although children make the grass puppets to mimic the characters of the shadow puppets, the grass puppets are also a form of resistance to these high cost and exclusive cultural products. The “traditional” shadow puppet performances take place at night time, starting at around nine o’clock at night and continue till about four in the morning which is a time when most children are actually asleep. The grass puppets are created by children and played during the day while they look after the rice fields, requiring only a handful of grass which is plaited and woven, oral music, humming and narrators who do not dress up in formal costumes. Grass Puppets are a symbol of grass roots culture through which village communities learn how to create an artwork, music and narrate stories as a continuation of oral culture.

In the middle of the day village children play and swim in the rivers, make boats from bamboo shoots and horses from the stems of banana trees. They then gather under a tree to make puppets from grasses collected around the rice field. Piece by piece they weave the straw to create the characters from the Mahabharata (the legend usually depicted in the buffalo hide shadow puppets), for example the character Bima who is famous for his strength and bravery or Shinta for her beauty and slender body. The woven puppets have a unique and beautiful aesthetic quality. When everyone has finished making a couple of puppets each, one of them takes on the role of the narrator (dalang), and by holding a pair of puppets the narrator starts to talk and relate the dialogue. The other children accompany the narrator with song, humming, clapping their hands or even hitting a couple of stones together in improvisation. With the green rice field and the flow of the river in the background, the performance begins and nearby birds and buffalo become part of it too.

Jumaadi has been making grass puppets since he was five years old and was taught by his father in a village on the east cost of Java. He has run Grass Puppet workshops for a variety of audiences including kindergarten students in Toowoomba, high schools in Bellingen, Indonesian studies students at the University of Sydney, international artists gathered for South Project held at the University of Melbourne, Drawing & Sculpture students at the National Art School, Sydney, a Women’s group in NSW, environmental activists in Bali as well as school age students in villages around Java. Jumaadi has been awarded a number of art prizes in Australia, most recently the John Coburn Emerging Artist Award at the Blake Prize 2007, and regularly exhibits in Indonesia and Australia. As a story-teller with School Performance Tours he has visited hundreds of schools throughout Australia performing with Grass Puppets and self made shadow puppets in a show called “The Buffalo Boy “.

Jumaadi enjoys sharing experiences of cultural production and the shadow puppets of Java. With his passion for this craft, he will show you how easy it is to weave, knot and create characters out of grass and straw, then get you to chant and narrate stories amongst your friends, families, colleagues or even audiences.

WORKSHOP DETAILS

Length of workshop: 2 hours or more (if necessary) per workshop.
Number of participants: 20 people per workshop.
Venue: Outdoors or inside, participants will sit on the ground/floor. No chairs or tables are required. Each person should have enough space to stretch their arms out (approx 1m2).
Materials/Grass: Will be provided either by organisers or Jumaadi (to be agreed upon beforehand)
Nature of workshops: Nonformal (to recreate the atmosphere in Java)

Expected Outcomes: Participants will learn some basic weaving techniques, character development, basic Javanese notation and narating story (depending on the interests of the participants).
Target audience: Children and families (all ages), profesional puppeteers, teachers, art students and artists. Both beginners and master class.

Proposed Fee : $600 per workshop or $ 1000 for 2 workshops (Jumaadi will also provide the materials)


Jumaadi is an accomplished educator, artist and musician with true passion for the work he does.

Jumaadi: ABN 70 687 878 006
Primary Version Suitable for:- K & Preps 6.Secondary and high schools as well as adult/ teachers and artist
Version suitable for:- 7 to 10.
Cost: $300 + materials perworkshops maximum audience Size: 25 ( or negotiate according to the nature of the booking).
Times: The workshops is minimum 90 minutes long.

please contact jumaadi +61 413 681 027
jumaadi@hotmail.com

Friday, April 20, 2007

grass puppet

http://www.craftaustralia.com.au/coa/bulletins/20050704.html

Tuesday, April 17, 2007

Tuesday, January 9, 2007

Certia dibalik benda

CERITA DIBALIK BENDA
MELIHAT CAPAIAN TERKINI TRADISI VISUAL DI JAWA TIMUR.

Gambaran:

Sebuah pameran trimatra dari berbagai seniman dan kelompok kesenian di Jawa Timur yang bertujuan untuk melihat capaian terkini tradisi visual di Jawa Timur. Adapun karya yang dipilih adalah praktik-praktik kesenian yang benar-benar hidup di masyarakat, termasuk kebudayaan populer yang masih hidup dan menghidupi masyarakatnya.

Landasan

Setiap “benda” memiliki keelokan, keunikan dan daya tarik tersendiri. Bahkan dengan segala kesahajaanya “ benda” memiliki “cerita” khusus dibalik bentuk, guna dan hal hal yang melatar belakangi proses penciptaanya. Setiap benda dengan keelokan bentuknya sebenarnya mempunyai kekuatan untuk bertutur dan bercerita yang dimaksudkan untuk memperhalus budi pekerti, menjaga kelestarian alam, memberi wejangan ilmu bumi serta ilmu langit kepada anak generasinya. Bahkan dalam beberapa hal benda benda mempunyai nilai kesakralan tertentu sehingga membimbing seseorang atau sekelompok masyarakat untuk lebih berdekatan dengan yang maha agung.

Cerita cerita dibalik benda tersebut sering mengungkap rahasia sebuah peradaban, menggambarkan sebuah tempat atau sebuah kota, bahkan mewakili suara nurani seseorang atau sekelompok masyarakat yang sulit diungkapkan dalam bentuk lain. Apalagi benda yang mempunyai nilai seni seperti Wayang Kulit, topeng, boneka, keramik, kain batik, perhiasan dari batu atau logam mulia, ukir kayu dan benda benda budaya lainnya. Karena keunikan baik bentuk maupun cerita yang melatar belakangi proses penciptaannya, maka benda benda tersebut bisa digolongkan sebagai karya seni yang bernilai tinggi.

Pada era globalisasi dimana kesenian masa kini terbuka terhadap berbagai bentuk, media, bahkan ruang, maka selayaknya benda bernilai seni tersebut bisa dipamerkan dikancah kesenian yang lebih luas. Yaitu arena kesenian yang bertaraf nasional bahkan internasional. Sehingga cerita dibalik benda itupun mendapat kesempatan untuk menuturkan latar belakangnya, kota asalnya, peradaban masyarakat dan bangsanya.

Dari latar belakang diatas maka “ Project Ore ore” berkehendak untuk menyelenggarakan sebuah pameran dengan tema “CERITA DIBALIK BENDA “ di Pusat Kebudayaan Prancis Surabaya yang akan berlangsung pada tanggal 5 februari 2007. Setelah dipamerkan di Pusat Kebudayaan Prancis, diharapkan akan dipamerkan ditempat lain di Indonesia bahkan di luar negeri termasuk di Australia.

Demi terselnggaranya pameran ini, panitia Ore Ore Project mengharap dukungan semua pihak.

Tujuan :

• Untuk melihat capaian terkini tradisi kesenian di Jawa Timur dan memperkenalkan capaian tersebut kesegenab lapisan masyarakat melaui sebuah pameran dan workshops.
• Bagi peserta pameran, workshops dan kolaborasi diharapkan akan saling bertukar pengalaman, gagasan dan strategi pengembangan ketrampilan dan managemen kesenian ditempat masing masing.
• Mengembalikan status kesenian rakyat menjadi bahagian dari kesenian modern.
• Setelah dipamerkan di surabaya dan beberapa tempat di Indonesia diharapkan bisa dipamerkan di Australia dan negara lain.

WAKTU DAN TEMPAT

5 februari sampai dengan 10 februari di Pusat Kebudayaan Prancil Jln Darmo Kali 10 Surabaya.

PESERTA PAMERAN DAN BENTUK KESENIAN:

Pameran meliputi batik tradisi Mojokerto, embroidery ibu Sunarko Malang, kuda lumping, peraga bantengan Pacet, seni lukis kaca, daur ulang kaca dari jombang, keris, boneka, gambar, patung, anyaman, pertunjukan dan instalasi Wayang Wayangan Jumaadi dan Rumah Budaya Sidoarjo, keramik serta gambar dan lukisan dari hasil workshops “ cerita Nusantara “ dengan segenab lapisan masyarakat.

Jadwal Pameran pameran :

• Pembukaan 5 februari 2007 dibuka oleh kepala dinas PDK dengan pertunjukan: musik, wayang, pembacaan puisi dan lain lain.

• Diskusi: Hari selasa tgl 6 Februari. Rain rasidi : Seni Trimatra adalah masa depan seni rupa indonesia. Jumaadi : Kesenian Aborigin Aust.

• Pameran di CCCL

• Pameran di tempat lain

• Pameran di Australia

Ore Ore Project

ORE ORE PROJECT

Tentang Ore Ore Project

Adalah serangkaian peristiwa Budaya dengan berbagai kegiatan antara lain pertunjukan dan pameran kesenian, diskusi, sarasehan, kolaborasi antar sesama pelaku seni, terutama seni rupa dan seni pertunjukan dan workshop di sekolah sekolah di Jawa Timur dan New South Wales Australia. Adapun tujuan daripada projek ini adalah untuk melihat dan mendukung capaian terkini tradisi berkesenian di masyarakat Jawa Timur dan di New South Wales Australia serta saling bertukar pengalaman dan membangun jejaring antar sesama pelaku dan ahli perihal pengembangan kesenian di daerah masing masing.

Project ini diprakarsai oleh Siswahyu dari Rumah Budaya Pecantingan di Sidoarjo dan Siobhan Campbell dari Australia. Project ini didukung oleh Jumaadi sehubungan dengan workshop dan kuratorial seni rupa. Workshop seni rupa kesenian di tempat tempat di Jawa Timur, Jumaadi akan di Bantu oleh Rain Rasidi bersama komunitas Gelaran Budaya Jogjakarta dengan project “ Cerita Nusantara” yang mana telah mengumpulkan 900 cerita dari seluruh Indonesia.

Kelanjutan project di Australia akan melibatkan National Art School, university of Sydney, Sculpture By The Sea, Connect Marrickvile, School Performance Tour dan beberapa institusi kesenian seperti galeri seni dan kelompok pertunjukan serta Konsulat RI di Sydney.

Tujuan:

· Untuk melihat capaian terkini tradisi kesenian disebagian tempat Jawa Timur dan New South Wales serta memperkenalkannya kesegenab lapisan masyarakat nasional dan internasional melaui serangkaian peristiwa budaya.
· Bagi peserta pameran, workshops dan kolaborasi diharapkan akan saling bertukar pengalaman, gagasan strategi pengembangan ketrampilan dan managemen kesenian ditempat masing masing.

Hasil yang diharapkan :

· Adanya jejaring antar pelaku seni, pengamat, kolektor, penyandang dana dan pemerintah jawa Timur dan New South Wales.
· Dikenalnya kesenian Jawa Timur terutama tradisi visual dan pertunjukan di kanca kesenian nasional dan internasional.
· Hasil daripada project ini akan dipamerkan dan dipertunjukkan di surabaya, beberapa tempat di Indonesia dan di Australia.
Bentuk kegiatan : Pameran karya Jumaadi di pusat kebudayaan Prancis ·
Workshop, sharing,%2

wayang



workshop wayang rumput